JUDUL : DARAH DAN AIR MATA DIBOVEN DIGUL
PENGARANG : Oen Bo Tik
TEBAL : 65 HALAMAN
PENERBIT : BULAN PURNAMA
A. Boven Digul merupakan tempat pembuangan bagi para pemberontak komunis. Disana sangat sepi Karen disana memang dulunya hutan, tidak seperti dipulau jawa.Disan banyak binatang liar, juga masih sedikit yang tinggal disana. Bahkan bhan makananpun harus mengambil dari pulau lain. Di Digul orang-orang disuruh oleh para colonial untuk membabat hutan yang lebat. Boven Digul tempat yang jauh dari famili begitu keluh para penghuninya. Bahkan kaalu malam banyak nyamuk yang sangat ganas, semakain malam semakan buas nyamuk. Sedikit demi sedikit hutan dibabat oleh para penghuni digul, berubah menjadi lading untuk ditamani, dan banyak juga yang membuata rumah dan jadilah perkampungan yang dinamai kampong A, B, C, dan seterusnya sampai kampong G. hingga lama-lam disana menjadi daerah yang maju, tapi walaupun demikian tetap saja daerah ini pembuagan.
Lebarnya lautan sangat lebar karena mereka telah naik kapal yang menuju digul, didalam kapal cuma berisi orang yang menangisi nasib karena menyesal ikut gerakan komunis. Menagis dan tangisan yang terdengar dari kapal. Ada yang bersender pada peti, ada yang memandangi lautan dan ada juga yang tertidur.tapi roman mereka tetap sama yaitu kemuraman dan sedih semua diam karena akan dibawa keboven digul yaitu pembuangan yang kejam bagi benak mereka. Tak ada satu orangpun yang rebut dalam kapal yang penuh kesedihan, harapan mereka seolah pupus karena sudah jauh dari pulau jawa yang mengingatkan pada sanak saudara. Hingga ada slah satu dari mereka yang menyanyi lagu dandang gula yang menambah sedih suasana karena isinya penyesalan kepada orang tua karena tak patuh, walupun tidak semua berasal dari jawa, ada yang dari Sumatra , betawi dan sunda.
Sementar itu duduk dipojok sepasang suami istri muda yang bertengkar ketika mendengar nyanyian orang tadi, sang suami bernama sugiri dan sang isteri bernama Mariyah, Mariyah terus bertanya pada Sugiri mengapa ia ikut ke digul sementara ia tak terlibat pada gerakan komunis. Sugiri memang salah, karena memaksa Mariyah Mariyah dan Sugiri meributkan siapa yang salah terus dalam perjalanan , Mariyah mengungkit – ungkit kembali kehidupanya dulu yang lumayan sejahtera . orang tua Sugiri adalah seorang hartaawan , dank arena tekat ingin Mariyah ikut ayah Sugiri menyuruh Mariyah dengan memberi gelang. Sugiri dibuang keboven digul memang berangan- angan komunis dari dulu dan sekarang ia tau akibatnya. Mariyah terus saja menyalahkan Sugiri , tapi semua sudah terlanjur. Mariyah sudah tidak punya ayah, dia diasuh oleh ibunya, dulu Mariyah seorang kembang desa yang dikagumi oleh banyak pemuda, hingga Sugiri melamar Mariyah dan akhirnya diterima, karena ayah Sugiri yang hartawan juga. Sugiri memang pemuda yang beruntung karena mendapatkan Mariyah, hingga Sugiri bercampur dengan komunis dan menjadi jempolanya Beractie, dan sekarang dia harus menerima menjadi seorang yang di buang kedigul.
Suami – istri itu duduk sembari memandangi lautan yang luas. Dan Mariyah mendekap Sugiri sambil mengucurkan banyak air matayang terlihat bagai pancuran. Sugiri menjak Istrinya karena ingin melihat orang yang bernyanyi bagus itu, tib-tiba Mariyah mengusap air matanya karena terdengar suara dibalik peti, yang mengagetkan penghuni kapal, ternyata adalah seorang pemuda yang romanya cakep, dan tak ada muka sedih bahkan susah. pemuda itu memang membuat orang terkejut karena suaranya yang membetak karena penghuni kapal pada menangis. Ternyata ia sedang tidur saat orang pada menangis tadi. Dan pemuda yang bernama Margono it uterus berpidato mengenahi komunis, dan tak perlu disesali mengapa sampai dibuang dan ia bilang bahwa digul adalah sorga dengan penuh keramahan, pemuda itu berpidato dengan sangat semangat. Dan seluruh penumpang kapal terbakar semangatnya untuk meniti kembali kehidupan yang lebih indan di Boven Digul. Kesedihan kini berubah menjadi semangat yang berapi-api. Bahkan sampai orang kapten kapal yang notobene orang belanda memberi semangat pad Margono, maka semakin semagatlah perjalan menuju digul.
Sugiri yang tertari kpada perkataan margono pun, mencari margono terus. Setelah berhasil menemukan margono ternyata Margono sedang berbicara dengan seseorang yang rambutya sudah putih dan seorang pemuda yang perawakanya jelek, yang bernama Hj.Barmawi dan Suradi, Kemudian Sugiri beserta istrinya ikut dalam perbiran mereka. Mereka membicarakan mengapa Hj.Barmawi sampai terjun kedunia Kominis padhal dirinya adlah orang yang cukup mampu dan tergolong kaya, hal ini membuat penasaran. Ternyata Hj.Barmawi dulunya tidak bias mengolah hartanya dia sering menyalah gunakan hartanya untuk maksiat bahkan ia sampai punya 3 orang isrti. Istri yang pertama meninggal di Makkah dan 2 isrti yang lain ia ceraikan karena selingkuh. Pertanyaan berlanjut Margono bertanya apa yang dimaksuk komunis sejati dan Hj.Bamawi mwnjawabnya dengan lancar dan memuaskan para pendengarnya, ternyata disaat margono bertanya Mariyah menaruh hati pad Moargono. Mereka berempat tambah dekat, dan dalam perjalanan menuju digul mereka saling bertukar pengalaman.
Margono meramal besok akan sampai didigul ternya benar dan mereka disambut dengan ramah didigul yang mereka anggap menyeramkan, satu persatu diperiksa oleh tertara kolonial. Tiba-tiba terdengar suara jeritan diantara oara hiruk pikuk, ternyata seorang wanita yang rambutnya taktersisir dan acak-acakan. Perempuan itu yang semulanya ingin menyambut Morgono kembali kedalam kampong dan masuk kekamarnya dengan tangis yang tiada henti.. pertemuan antar penduduk baru dan lam memang mengharukan karena didigul penuh dengan keramahan.hj.Barmawi banyak kenalan sehingga ia tidak sulit untuk mendapatkan tempat tinggal. Sugiri juga diambut oleh pamanya yang berasal dari jawa juga.namun mMargono yang selalu tersenyum tidak ada yang menyambut karena tujuan dia menuju didgul adalah ingan menemui seorang pujaan hatinya yang ikut orang tuanya karena ia seorang komunis, maka Margono yang sebenarnya keturunan bangsawan mengacau dan ikut pemberontakan yang berlatar komunis, tiba-tiba margono terkena peti yang dianggat oleh awak kapal, tapi Margono langsung dibawa kerumah sakit yang kebetulan baru dibangun. Dan semua panic ketika penyemangat mereka masuk rumah sakit tapi keadaan Margono tidak apa-apa.
Hingga matahi terbit dan seorang wanita yang ingin sekali Margono menemuinya dating kerumah sakit, disana wanita yang bernama Aminah itu menangis tersedu-sedu dan Marno bertanya ternyata Aminah sudah punya suami maka hancurlah hati Margono yang penuh dengan semangat itu. Aminah menganggap Margono tidak dating lagi karena lama tak dang kedigul tapi Morgono dating dan Aminah sudah menikah selama 2 bulan lamanya.
Margono tinggal dengan Hj.Barmawi dalam satu rumah dan tidak jauh dari rumah Margono ada rumah Mardisaputro yaitu Isteri Aminah. Tidak ada yang tahu bahwa didalam kesunyian rumah Mardi terdapat kekalutan, lantaran suami bicara dengan perlahan tapi mengandung kemarahan yang tidak kecil. Aminah dihina sebagai perempuan rendah tapi dengan sangat halus jadi sangat menusuk hati. Aminah dilepasri remasan surat oleh Mardi yang isinya bahwa aminah selingkuh dengan Morgono, Aminah sangat takut saat itu pada Mardi, bahkan badanya sampai gemetaran. Sambil menahan rasa takutnya Aminah menyangkal dan membantah, Mardi sangat murka tapi tidak sampai mengeluarkan kata-kata kotor. Kemudian Aminah menjelaskan pad Mardi bahwa Aminah dengan Margono dulu satu sekolahan dan saling menjalin cinta lantaran Aminah ikut ayahnya yang masuk gerakan komunis maka mereka harus berpisah, tapi Margono tidak tinggal dian ia ikut juga gerakan komunis walaupun sangat dilarang oleh ayahnya, hingga akhirnya Margono dibuang kedigul sampainya didigul Aminah sudah menikah. Mendengar penjelasan Aminah tadi Mardi terhenyuh lama.murkanya lama-lama hilang dari mukanya. Tak lama mardi bilang ingin menyingkir dari kehidupan Aminah. Tapi Aminah melarang tapi Mardi kukuh akan pendirianya walaupun hatinya sangatlah sakit, Aminah sangat sedih dan menangis tersedu-sedu di dada Mardi.
Keesokanya kira-kira pukul sepuluh , perempuan yang sedang mandi menjerit karena melihat darah dan diikuti sesosok mayat yang ternyata Mardi. Mardi meninggal dengan sangat sadis karena pisau menancup di dadanya. Aminah menjerit tapi mayat Mardi seolah tersenyum , Aminah sangat sedih ketika itu.
Keesokan harinya Margono, Hj.Barmawi dan Sugiri membicarakan surat yang menjadi penyebab kematian Mardisaputro. Margonop menyimpulkan yang menulis surat itu adalah seorang permpuan Karena Sugiri tau bagaiman tulisan isterinya ia pulangdengan penuh amarah dan sampainya dirumah Sugiri marah-marah pada isterinya sampai Mariyah menagis 1 malam. Lalu Sugiri pergi, Tapi ketika pulang kembali ia malah memanfaatkan Mariyah supaya tidak pulang ke jawa.
Margono dan Aminah berziarah kekuburan Mardisaputro, seraya diiringi sura burung, hari demi hari Aminah dan margono semakin dekat saja, hingga suatu hari Aminah dan Margono semakin dekat saja, dan mereka berduaan dihutan, tanpa disadari mereka tidak sendiri Mariyah yang sudah tidak sedih juga berduaan dengan Sugiri. Mereka saling tertawa saat mengetahui posisi masing-masing. Tiba-tiba Hj. Barmawi dating sambil membawa perahu dan menyuruh kedua pasangan itu untuk naik kapal yang dibwanya lalu mereka menyusuri sungai.
B. UNSUR INSTRINSIK
1. Tema : cinta dipembuangan
2. Alur
Macamnya : campuran (progresif-regresif)
Jenisnya : Renggang
3. perwatakan
Ø Margono : Bersemangat, murah senyum
Ø Aminah : Patuh
Ø Sugiri : Selalu tenang
Ø Mariyah : Selalu cemas
Ø Hj.Barmawi : Bijaksana
4. Latar/setting
Ø Tempat
Sungai : Dikali bening ada beberapa permpuan yang sedang
Mencuci
Pelabuhan : Raksasa air telah berlabuh dengan dikasih dengar
peluit
Kapal : Supaya jagan bosan hari ketemu hari tinggal
didalam kapal, yang terlihat air dan air saja dan
yang terdengar angin dan angin saja .
Ø Waktu
Petang : Betul ketika sudah magrib mereka berkumpul
kembali
Pagi : Ketika fajar menyingsing
Ø Suasana
Sedih : ketika mendengar nyanyian itu seketika semua
mengucurkan air matabahkan ada yang bersedu-
sedu
semangat : air mata yang banyak dikucurkan sekarang kering
dan menjadi semangat yang penuh pengharapan
5. Sudut pandang : orang ke-3 serba tahu
6. Gaya bahasa
1. Angin sudah meniup dedaunan : personifikasi
2. fajar baru saja menyingsing disebelah timur : personifikasi
3. Dikipasi oleh silir angina : personifikasi
4. Raksasa air telah berlabuh : metafora ( raksasa air = kapal)
7. Amanat
1. Jaganlah kamu putus asa sebelum tahu apa yang sebenarnya
2. Patuhilah perkataan orang tua jika tidak kita bisa
Menyesal dikemudian hari
0 komentar:
Posting Komentar